Monumen “The Georgia Guidestones” 2

December 3rd, 2010 by elisandy

Monumental Instructions for the Post-Apocalypse

Monumen ini adalah salah satu monumen teraneh di Amerika. Monumen ini terletak di timur laut negara bagian Georgia. Terdapat 5 bilah batu yang seolah olah keluar dari dalam tanah. Yang lebih aneh lagi, kelima batu tersebut membentuk formasi bintang.

Selain deikenal dengan nama Monumental Instructions for the Post-Apocalypse, monmen ini juga dikenal dengan sebutan Georgia Guidestones.

Tinggi dari batu tersebut mencapai 16 kaki (487.68 cm, atau hampir 5 meter) dan berbahan dasar granit. Berat batu tersebut diperkirakan mencapai 20 ton perbuahnya. Bentuk ini mengingatkan kita pada Stonehenge di UK.

Hinnga saat ini belum ada keterangan tentang siapa pembuat dan tujuan didirikannya batu batu tersebut. Berikut terdapat artikel unutk review batu itu.

DOWNLOAD

ini untuk versi bahasa inggrisnya,

The strangest monument in America looms over a barren knoll in northeastern Georgia. Five massive slabs of polished granite rise out of the earth in a star pattern. The rocks are each 16 feet tall, with four of them weighing more than 20 tons apiece. Together they support a 25,000-pound capstone. Approaching the edifice, it’s hard not to think immediately of England’s Stonehenge or possibly the ominous monolith from 2001: A Space Odyssey. Built in 1980, these pale gray rocks are quietly awaiting the end of the world as we know it.

Called the Georgia Guidestones, the monument is a mystery—nobody knows exactly who commissioned it or why. The only clues to its origin are on a nearby plaque on the ground—which gives the dimensions and explains a series of intricate notches and holes that correspond to the movements of the sun and stars—and the “guides” themselves, directives carved into the rocks. These instructions appear in eight languages ranging from English to Swahili and reflect a peculiar New Age ideology. Some are vaguely eugenic (guide reproduction wisely—improving fitness and diversity); others prescribe standard-issue hippie mysticism (prize truth—beauty—love—seeking harmony with the infinite).

What’s most widely agreed upon—based on the evidence available—is that the Guidestones are meant to instruct the dazed survivors of some impending apocalypse as they attempt to reconstitute civilization. Not everyone is comfortable with this notion. A few days before I visited, the stones had been splattered with polyurethane and spray-painted with graffiti, including slogans like “Death to the new world order.” This defacement was the first serious act of vandalism in the Guidestones’ history, but it was hardly the first objection to their existence. In fact, for more than three decades this uncanny structure in the heart of the Bible Belt has been generating responses that range from enchantment to horror. Supporters (notable among them Yoko Ono) have praised the messages as a stirring call to rational thinking, akin to Thomas Paine’s The Age of Reason. Opponents have attacked them as the Ten Commandments of the Antichrist.

Whoever the anonymous architects of the Guidestones were, they knew what they were doing: The monument is a highly engineered structure that flawlessly tracks the sun. It also manages to engender endless fascination, thanks to a carefully orchestrated aura of mystery. And the stones have attracted plenty of devotees to defend against folks who would like them destroyed. Clearly, whoever had the monument placed here understood one thing very well: People prize what they don’t understand at least as much as what they do.

The story of the Georgia Guidestones began on a Friday afternoon in June 1979, when an elegant gray-haired gentleman showed up in Elbert County, made his way to the offices of Elberton Granite Finishing, and introduced himself as Robert C. Christian. He claimed to represent “a small group of loyal Americans” who had been planning the installation of an unusually large and complex stone monument. Christian had come to Elberton—the county seat and the granite capital of the world—because he believed its quarries produced the finest stone on the planet.

Joe Fendley, Elberton Granite’s president, nodded absently, distracted by the rush to complete his weekly payroll. But when Christian began to describe the monument he had in mind, Fendley stopped what he was doing. Not only was the man asking for stones larger than any that had been quarried in the county, he also wanted them cut, finished, and assembled into some kind of enormous astronomical instrument.

What in the world would it be for? Fendley asked. Christian explained that the structure he had in mind would serve as a compass, calendar, and clock. It would also need to be engraved with a set of guides written in eight of the world’s major languages. And it had to be capable of withstanding the most catastrophic events, so that the shattered remnants of humanity would be able to use those guides to reestablish a better civilization than the one that was about to destroy itself.

keterangan:
1. Monumen ini terletak di titk tertingi Elbert County, dimaksudkan unutk mengikuti pergerakan matahari dari timur ke barat sepanjang tahun.
2. Pada saat equinox (keadaan dimana kemiringan sumbu bumi jauh dari matahari, matahari tepat berada diatas khatulistiwa, lengkapnya baca), pengunjung yang berada pada sebelah barat dari batu tengah yang terdapat seperti lubang horizontal (lihat gambar diatas no 2) dapat melihat matahari terbit dari horizon.
3. Terdapat lubang sebesar mata yang terdapat pada batu tiang yang ditengah. Jika kita melihat dari arah selatan melalui lubang itu meuju langit, maka akan nampak Polaris atau Bintang Utara (no 3).
4. Terdapat juga lubang berdiameter 7/8 inchi yang terletak di batu paling atas (batu yang horizontal). Lubang ini dapat menunjukkan secara waktu secara tepat. Jika sinar matahari yang melewati batu tersebut tepat berada ditengah batu tiang, maka saat itulah tengah hari.

Jadi, sepertinya bangunan ini juga memiliki fungsi sebagai penanda waktu, dan juga sebagai kompas. Akan tetapi batu batu ini masih mengandung misteri. Apakah batu ini peninggalan zaman Megalithikum?. Kalau batu ini buatan zaman tersebut apakah teknologi mereka sudah mampu menentuka equinox, polaris dan juga arah mata angin?. Kalau batu ini buatan manusia modern, siapakah dan unutk apa ia mambuatnya? atau mungkin saja batu batu itu bukan buatan manusia.

Biarlah misteri ini tetap menjadi misteri.

Monumen “The Georgia Guidestones”

December 3rd, 2010 by elisandy

Hingga hari ini, tidak ada yang tahu, siapa pendiri monumen misterius “The Georgia Guidestones”. Monumen ini berdiri di tahun 1979, dibangun oleh orang..atau sekelompok orang yang tidak dikenal, di Georgia Amerika Serikat. Dalam monumen ini terukir pesan..yang ditulis dalam 8 (delapan) bahasa.Inti pesan ini adalah, pentingnya pengurangan jumlah populasi penduduk dunia menjadi 500 juta orang saja!

Diduga, pendiri Monumen Misterius ini adalah kaum elite pelopor globalisasi (New World Order), demikian menurut teori konspirasi. Tapi hingga detik ini, tidak ada yang mengetahui kebenarannya!!

Pic :
Georgia Guidestones
di Elberton, Georgia, USA.

Di Elberton, Georgia, sebuah kota dengan penduduk sekitar 5.000 orang, yang terletak di dekat perbatasan negara bagian South Carolina di Amerika Serikat, berdiri sebuah monumen granit besar yang berisi pesan mengenai ketahanan umat manusia dan generasi mendatang. Terukir dalam delapan bahasa yang berbeda pada empat batu besar adalah 10 Guides, atau perintah yang menjelaskan agenda New World Order (Paham Dunia Baru). Monumen ini disebut sebagai Guidestones Georgia atau Stonehenge Amerika.

Monumen didirikan pada tahun 1979 setelah seorang pria berpakaian rapi, menggunakan nama samaran RC Christian, datang dan memperkenalkan dirinya sebagai wakil dari sebuah kelompok yang memiliki agenda kemanusiaan. Hingga saat ini, tak ada yang mengetahui siapa sebenarnya lelaki misterius bernama RC Christian ini.

Pesan dalam Georgie Guidestones mengandung inti permasalahan mengenai empat isu utama:
1) Pembentukan pemerintahan dunia dan satu bahasa bagi dunia,
2) Pengurangan jumlah penduduk dan kontrol reproduksi,
3) Lingkungan dan hubungan manusia dengan lingkungan,
4) “Iman” dan Spiritualitas.

The Guides, memiliki aturan yang jelas. Berikut kata-kata yang diukir diatas batu Guidestones.

1. Mempertahankan jumlah penduduk dunia di bawah jumlah 500.000.000 supaya memiliki keseimbangan abadi dengan alam
2. Panduan reproduksi bijaksana – meningkatkan kebugaran dan keanekaragaman.
3. Menyatukan umat manusia dengan satu bahasa tunggal baru
4. Mengatur tiga hal, yaitu gairah – iman – tradisi – dan segala sesuatu yang berhubungan dengan amarah.
5. Melindungi manusia dan bangsa-bangsa dengan hukum yang adil dan sistem pengadilan.
6. Biarkan semua bangsa memiliki aturan internal eksternal guna menyelesaikan sengketa di pengadilan dunia.
7. Hindari pejabat tidak berguna dan peraturan yang mengada-ada.
8. Seimbangkan hak pribadi dengan tugas sosial.
9. Hormati kebenaran- keindahan – cinta – guna mencari harmoni dengan yang tak terbatas.
10. Janganlah manusia menjadi seperti penyakit kanker bagi bumi – Sisakan ruang untuk alam – Sisakan ruang untuk alam.

Pertanyaannya adalah :
- siapa sesungguhnya pendiri monumen ini?
- apa tujuan/maksudnya mendirikan monumen ini?

Sumber : http://www.radioliberty.com/stones.htm

Berita dari konferensi pers NASA mengenai “Alien” - penemuan bentuk kehidupan unik yang baru

December 3rd, 2010 by elisandy

Beberapa hari yang lalu, NASA telah menimbulkan kehebohan di dunia maya dengan mengumumkan akan diadakannya konferensi pers yang isinya disebut “akan membawa dampak besar bagi pencarian bukti kehidupan luar angkasa”. Perkataan ini telah membuat media dan para blogger berspekulasi mengenai kemungkinan telah ditemukannya kehidupan di luar angkasa oleh NASA.

Media-media segera menurunkan berita dengan judul seperti:

“Did they find ET?”

atau

“Has NASA found little green men?”

Di Indonesia, Kompas.com memberitakannya dengan judul: “NASA menemukan Alien?

Vivanews bahkan memberitakannya dengan judul: “Besok, NASA gelar konpers soal alien“, tanpa tanda tanya dibelakang judul tersebut.

Salah seorang blogger ternama di Amerika percaya kalau NASA mungkin telah menemukan kehidupan di Titan, bulan Saturnus. Blogger-blogger lain bahkan bertanya-tanya, apakah penemuan mayat alien di Roswell juga akan diumumkan.

Jadi, beberapa pembaca meminta saya untuk memposting hasil konferensi pers NASA yang telah dilakukan hari ini waktu Indonesia.

Nah, inilah hasil konferensi pers tersebut, cukup membosankan sebenarnya.

NASA mengadakan konferensi pers bukan untuk mengumumkan penemuan bentuk kehidupan cerdas di luar angkasa (alien). Mereka memang menemukan bentuk kehidupan yang luar biasa, namun bukan di planet lain, melainkan di bumi ini.

Penemuan yang dimaksud adalah penemuan mikroba di danau Mono, California.

Mikroba ini bukan mikroba sembarangan. Ia bisa bertahan hidup dan bereproduksi dengan menggunakan arsenik, sebuah elemen yang sebelumnya dianggap beracun bagi kehidupan.

Selama ini, kita mengenal ada enam elemen utama yang membentuk kehidupan di bumi ini, yaitu: Karbon, Hidrogen, Nitrogen, Oksigen, Fosforus dan Sulfur.

Fosforus sendiri adalah salah satu unsur penting pendukung DNA dan RNA dan dianggap sebagai elemen penting bagi semua sel hidup.

Mikroba yang ditemukan di danau Mono bisa mengganti Fosforus dengan Arsenik di dalam komponen selnya.

Walaupun Arsenik memiliki struktur kimiawi yang mirip dengan Fosforus, namun elemen ini berbahaya bagi bentuk kehidupan di bumi karena ia bisa mengganggu jalur metabolisme.

Felisa Wolfe Simon, salah seorang ahli Astrobiologi dari NASA yang juga kepala tim peneliti yang menemukan mikroba ini mengatakan:

“Kami tahu kalau memang ada beberapa jenis mikroba yang bisa bernapas dengan Arsenik. Namun apa yang kami temukan ini adalah sesuatu yang baru. Mikroba-mikroba tersebut membangun tubuhnya dengan menggunakan Arsenik.”

“Jika sesuatu di bumi ini bisa melakukan hal yang tidak terduga seperti itu, pasti ada hal lain lagi yang bisa dilakukan oleh kehidupan yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”

Penemuan ini tentu saja akan mengubah ilmu pengetahuan yang selama ini kita kenal. Selama ini, dalam usaha mencari bentuk kehidupan lain di luar angkasa, para peneliti selalu menggunakan patokan sains yang telah dikenal. Kini patokan itu telah berkembang.

“Definisi kehidupan baru saja berkembang,” Kata Ed Weiler, Salah seorang pejabat di departemen ilmu pengetahuan NASA.

“Sementara kita terus berusaha untuk menemukan tanda-tanda kehidupan di sistem tata surya kita, mungkin kita harus berpikir lebih luas, lebih beragam dan mempertimbangkan kehidupan lain yang tidak kita kenal sebelumnya.”

Mikroba ini, yang disebut GFAJ-1, adalah anggota dari kelompok bakteriGammaproteobacteria.

Penemuan ini pertama kali terjadi ketika para peneliti membawa mikroba-mikroba tersebut ke laboratorium dan mengembangkannya. Ketika mereka mengganti Fosforus dengan Arsenik, mikroba tersebut terus bertumbuh. Bahkan mereka menggunakan Arsenik itu untuk membangun sel-sel baru sehingga elemen itu menjadi bagian dari sistem biokimianya, seperti DNA, protein dan membran sel.

Tim peneliti ini memutuskan untuk meneliti danau Mono karena kondisinya yang tidak biasa. Danau ini dikenal memiliki kadar garam, Alkalin dan Arsenik yang tinggi akibat terpisahnya danau ini dari sumber air tawar selama lebih dari 50 tahun.

Konferensi pers ini mungkin mengecewakan bagi para penggemar alien. Namun, paling tidak NASA benar ketika mereka mengatakan kalau penemuan ini bisa membawa dampak besar bagi usaha pencarian kehidupan di luar angkasa. Sekarang mereka bisa berpikir di luar kotak dan melihat kepada kemungkinan yang lebih luas.

Baca juga: Lima makhluk bumi yang mungkin bisa hidup di luar angkasa.

(nasa.gov)

Sumber : http://xfile-enigma.blogspot.com/2010/12/berita-dari-konferensi-pers-nasa.html

NASA Menemukan Aliens?

December 3rd, 2010 by elisandy

KOMPAS.com — Lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA) akan menggelar konferensi pers tentang isu yang paling membuat penasaran manusia sejagat, yaitu soal alien atau makhluk asing di luar Bumi.

Konferensi pers akan digelar pada hari ini (2/12/2010) pukul 14.00 waktu setempat atau besok (Jumat, 3/12/2010) sekitar pukul 02.00 WIB. Rencananya, konferensi pers tersebut akan membahas penemuan di bidang astrobiologi yang akan memberi dampak pada upaya menemukan kehidupan ekstraterestrial atau di luar Bumi.

Sejumlah pakar dari bidang astrobiologi dan molekuler evolusi akan hadir dalam konferensi pers itu. Beberapa di antaranya adalah Mary Voytek, Direktur Astrobiology Program, NASA Headquarters di Washington dan Felisa Wolfe-Simon, peneliti astrobiologi dari US Geological Survey.

Sejauh ini belum ada keterangan pasti tentang materi spesifik yang akan disampaikan. Beberapa media berspekulasi tentang materi yang akan disampaikan. Gawker, misalnya, mengeluarkan berita dengan judul “Apakah NASA menemukan kehidupan di satelit Saturnus?”, sementara media lain seperti PC World mengeluarkan berita “Apakah Alien Datang?”.

Sementara itu, Phill Plait, seorang reporter astronomi yang selama 10 tahun bekerja di Hubble Space Telescope memberi komentar yang lebih realistis. Ia mengatakan, konferensi NASA mungkin hanya akan mengumumkan beberapa lokasi yang memungkinkan adanya kehidupan, tetapi belum akan secara pasti menyebutkan adanya kehidupan di tempat tersebut.

“Acara ini kemungkinan besar akan mendiskusikan kondisi di planet atau satelit lain yang kondusif untuk kehidupan,” kata Plait. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa jika memang benar ada kehidupan, NASA tak akan menggelar konferensi untuk mengumumkannya, tetapi akan cenderung menutup informasi itu rapat-rapat.

Meski demikian, konferensi ini tetap menarik untuk dilihat. Untuk Anda yang berada di Indonesia, konferensi ini bisa dilihat secara langsung di NASA Television. Tapi, cara mengakses yang paling mungkin adalah lewat streaming dari situs milik NASA. Anda bisa mengeklik link berikut untuk menyaksikannya, http://www.nasa.gov/ntv.

Plait mengatakan, “Para ilmuwan yang hadir dalam konferensi tersebut sangat menarik, termasuk para astrobiolog dan geolog terkemuka yang bekerja menelaah objek dalam tata surya seperti Mars dan Titan.” Jadi, pastikan Anda tak melewatkan momen bersejarah ini.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2010/12/02/1500382/NASA.Menemukan.Alien

HAARP - Benarkah Amerika telah berhasil menciptakan senjata pamungkasnya ?

December 2nd, 2010 by elisandy

Ada sebuah rumor yang beredar luas di kalangan tertentu, bahwa Amerika Serikat telah berhasil membuat sebuah senjata pamungkas yang akan membawa kemenangan kepada mereka dalam peperangan apapun dan membawanya menjadi penguasa dunia satu-satunya. Senjata yang saya maksud adalah sebuah fasilitas yang dapat digunakan untuk memanipulasi cuaca dan iklim sehingga mampu menciptakan bencana seperti badai, gempa bumi dan tsunami di tempat yang diinginkan.

Penciptaan senjata pamungkas ini telah diprediksi oleh banyak orang sebelumnya. Seorang ilmuwan kelas dunia bernama Dr. Rosalie Bartell telah mengkonfirmasi bahwa militer Amerika sedang mengerjakan sebuah sistem pengatur cuaca sebagai senjata potensial. Metodenya termasuk mengendalikan badai dan mengatur arah penguapan air di atmosfer bumi untuk menghasilkan banjir di tempat tertentu.

Bukan hanya Dr Bartell yang mengatakan hal ini, mantan penasehat keamanan gedung putih bernama Zbigniew Brzezinski juga meramalkan hal ini dalam bukunya yang berjudul “Between Two Ages”. Di dalam bukunya, Ia menulis :

“Tekonologi akan menyediakan teknik untuk melakukan peperangan rahasia yang hanya membutuhkan sedikit pasukan, seperti teknik memodifikasi cuaca yang dapat menimbulkan badai yang berkepanjangan.”

Marc Filterman, seorang mantan pejabat militer Perancis pernah mengatakan bahwa Amerika telah memiliki teknologi untuk memanipulasi frekuensi radio untuk melepaskan kondisi cuaca tertentu seperti badai dan Topan.

Konon pada tahun 2002, Rusia pernah mengkonfrontir Amerika Serikat di hadapan PBB dengan menuduhnya telah menciptakan beberapa bencana di Rusia dengan eksperimen-eksperimennya.

Pertanyaannya adalah, apakah Amerika telah menemukan teknologinya ?

Di kalangan penganut teori konspirasi, beredar sebuah rumor bahwa Amerika telah berhasil menciptakan senjata dashyat tersebut dan mereka merahasiakannya dengan kedok ilmiah.

Senjata tersebut bernama HAARP. Satu fasilitas super rahasia yang dianggap sebagai perwujudan senjata pamungkas itu.


HAARP (High frequency Active Aural Research Program) adalah sebuah proyek bersama antara Angkatan udara AS, Angkatan Laut AS, Universitas Alaska dan DARPA (Defense Advances Research Projects Agency). Proyek ini dimulai pada tahun 1993 dan diproyeksikan untuk berlangsung selama 20 tahun.

Fasilitas proyek ini terletak di Alaska, tepatnya di wilayah Gakona. Tujuan resminya adalah untuk :”menyediakan sebuah fasilitas untuk mengadakan eksperimen mengenai fenomena ionosfer yang akan digunakan untuk menganalisa karakternya dan mengembangkan teknologi pemutakhirannya untuk tujuan komunikasi dan pengintaian.”

Namun menurut sebagian orang, ada sesuatu yang lebih besar sedang dilakukan di tempat ini. Yaitu pengembangan senjata pemusnah massal. HAARP disebut mampu menciptakan banjir dengan memanipulasi penguapan air, mampu menciptakan badai dan bahkan gempa bumi. Dengan kemampuan ini, tentu saja itu berarti Amerika akan mampu menciptakan bencana kelaparan di wilayah yang diinginkannya.

Pihak-pihak yang menuntut jawaban mengenai HAARP tersebar di seluruh penjuru dunia. Mulai dari penduduk Alaska sendiri hingga para ilmuwan di Amerika dan Eropa. Mereka kuatir bahwa HAARP akan menciptakan kerusakan yang tidak bisa dipulihkan.

Salah satu eksperimen HAARP adalah menembakkan sinar elektromagnetik terkendali ke ionosfer bumi. Metode ini disebut dengan “pemanas ionosfer”. Ionosfer adalah lapisan yang mengelilingi atmosfer bumi bagian atas dan jaraknya sekitar 40-60 mil diatas permukaan bumi.

David Yarrow, seorang peneliti dengan latar belakang bidang elektronik mengatakan bahwa interaksi ini akan menyebabkan ionosfer menjadi robek. Padahal ionosfer-lah yang melindungi kita dari radiasi matahari yang ganas.

Charles Yost peneliti lain dari North Carolina berkata,”Jika ionosfer terganggu, maka atmosfer dibawahnya pasti akan terganggu.”

Bagi ilmuwan, kekuatiran utamanya adalah kerusakan terhadap ionosfer bumi. Namun bagi penganut teori konspirasi, kekuatiran utamanya adalah kehadiran senjata pemusnah massal.

Menurut militer, tidak ada tujuan untuk menciptakan senjata pemusnah massal. Aplikasi HAARP hanyalah digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pertahanan Amerika seperti untuk menciptakan sistem komunikasi kapal selam yang lebih efisien, memantau dan menangkal serangan rudal yang datang tiba-tiba dan untuk memantau topografi wilayah luas untuk tujuan pertahanan.

Walaupun militer telah menyangkal, namun dokumen yang dirilis oleh militer jelas mengatakan bahwa HAARP didirikan memang untuk kepentingan departemen pertahanan.

Entahkah benar atau tidak, namun HAARP telah mencapai status yang mensejajarkannya dengan Area 51.

Baru-baru ini, ketika telegraph.co.uk mendaftar 30 teori konspirasi terbesar sepanjang masa, HAARP menduduki peringkat ke 27. Lumayanlah ! Walaupun hanya di urutan ke-27, tapi kelihatannya akhir-akhir ini HAARP menjadi lebih sering dibahas di dunia maya menyusul beberapa bencana yang terjadi seperti gempa dashyat di Cina pada Mei 2008 yang dicurigai diakibatkan oleh HAARP.

Jika anda ingin mencoba memata-matai fasilitas ini. Masuklah ke google earth, pada baris “fly to”, isikan “HAARP”. Maka anda akan langsung dibawa ke fasilitas ini. Mungkin anda akan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Selamat mencoba.

(wikipedia)

Source : http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/09/haarp-benarkah-amerika-telah-mendapat.html